Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2015

4 Mitos Tentang Kehamilan

4 Mitos Tentang Kehamilan

Bagi yang sudah tak sabar ingin menimang bayi, berbagai cara menuju kehamilan pasti akan dilakukan. Mulai dari mengikuti saran dokter yang ilmiah, saran-saran simpang siur yang cuma “katanya”, sampai resep hamil warisan turun-temurun. Beberapa ada yang benar, tapi banyak juga yang ternyata hanya mitos kehamilan belaka!

Mitos 1: Supaya hamil bayi kembar, makan singkong

Mitos kehamilan ini mulai muncul saat para peneliti berkunjung ke sebuah desa di Afrika bernama Igbo-Ora, salah satu daerah yang memiliki tingkat kelahiran kembar tertinggi di dunia. Hasil pengamatan menunjukkan, kesukaan masyarakat Igbo-Ora mengonsumsi singkong bisa jadi pendorong tingginya kemungkinan lahir kembar. Memang pernah ada satu penelitian yang mengaitkan singkong dengan kesuburan. Tetapi, karena ini hanya hasil penelitian seorang mahasiswa dari Yale University yang belum dibuktikan secara resmi, maka untuk sementara singkong harus masuk kategori mitos.

Mitos 2: Menenggak sirup obat batuk bantu Anda hamil

Mitos kehamilan ini sudah beredar luas sejak era ’80-an dan harus diakhiri sekarang. Teori di balik mitos ini ada hubungannya dengan salah satu bahan yang umum ditemukan dalam sirup obat batuk: guaifenesin. Dalam sebuah penelitian tahun 1982, obat batuk dianggap pendorong kesuburan yang potensial karena kemampuannya menipiskan lendir serviks, sehingga memudahkan perjalanan sperma bertemu sel telur.
Namun, mengingat tak pernah ada penelitian yang bisa membuktikan teori di atas, sebaiknya Anda tidak mengikuti saran tersebut. Faktanya, zat antihistamin dalam obat batuk justru memberi dampak buruk bagi kesuburan, bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan.

Mitos 3: Adopsi bayi, “pemancing” kehamilan.

Saran ini, meski tak pernah ada bukti ilmiahnya, terus menyebar dari waktu ke waktu. Banyak calon ibu menjadikannya pedoman, karena melihat mitos kehamilan ini berhasil pada beberapa orang. Mengadopsi anak tentu adalah hal yang baik. Tetapi, anggapan adopsi sebagai “pemancing” sebaiknya dianggap sebagai sebuah kebetulan saja dan jangan dijadikan ekspektasi untuk bisa hamil.

Mitos 4: Pil KB bikin susah hamil

Faktanya, pil KB tidak pernah memengaruhi kesuburan Anda. Penelitian menunjukkan, saat Anda berhenti mengonsumsi pil KB, ovulasi akan segera terjadi selang waktu tiga bulan, atau mungkin lebih cepat lagi. Malahan, lebih lanjut dikatakan, pil KB bisa berperan sebagai pelindung rahim.
Pil KB mampu memperlambat atau bahkan mencegah timbulnya kista rahim dan endometriosis. Endometriosis adalah sebuah kondisi dimana jaringan rahim tumbuh di luar rahim, misalnya pada organ-organ lain seperti tuba falopi dan ovarium. Kista dan endometriosis ini dapat mengganggu ovulasi.

2016 dan 2017 bisa menjadi tahun Terpanas

2016 dan 2017 Bisa Menjadi Tahun Terpanas

Dua tahun mendatang bisa merupakan yang terpanas secara global, ungkap riset badan meteorologi Inggris.

Perubahan besar bisa jadi sedang berlangsung dalam sistem iklim kita, dengan emisi rumah kaca yang meningkatkan dampak dari kecenderungan-kecenderungan alam. 

Riset itu menunjukkan, El Nino terus bergerak di Pasifik, yang akan meningkatkan suhu dunia secara keseluruhan.

Namun, musim-musim panas di Eropa juga bisa lebih dingin saat bagian dunia lain justru lebih hangat.

Menurut para ilmuwan, suhu permukaan bumi tahun 2015 rata-rata mencatat pada atau mendekati rekor terpanas (0,68 derajat celsius di atas suhu rata-rata tahun 1961-1990).

Direktur Hadley Centre Dinas Meteorologi Inggris, Prof Stephen Belcher, mengatakan, "Dengan kemungkinan bahwa tahun depan suhu akan sama panasnya, jelaslah bahwa iklim kita akan terus berubah."

Sebelumnya, para ilmuwan mengungkapkan, bulan Juli 2015 mencatat rekor sebagai bulan terpanas.

Di Indonesia, berbagai faktor, khususnya El Nino, membuat musim kering tahun 2015 berlangsung lebih lama dari biasanya, bisa hingga Desember 2015, dan menjadi faktor pula yang memperparah kebakaran hutan.

Sabtu, 16 Mei 2015

Senja biru di Mars

AMERIKA SERIKAT - Di Planet Biru kita, senja tampak berwarna merah. Sebaliknya, di Planet Merah, senja berwarna biru.

Wahana antariksa Curiosity mengabadikan wajah senja di Mars pada 15 April 2015 lalu.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis potret senja di Planet Merah itu pada Jumat (8/5/2015).

"Warna biru itu terjadi karena partikel debu punya ukuran yang pas sehingga memungkinkan cahaya biru masuk ke atmosfer lebih efisien," kata Mark Lemmon, ilmuwan tim Curiosity.

Cahaya biru yang masuk dan menabrak partikel debu tetap berada pada arah yang sama dengan Matahari.

Sementara itu, cahaya kuning dan merah yang mendominasi langit terhambur dan justru tak banyak diserap atmosfer.

Dijelaskan dalam laman Jet Propulsion Laboratory NASA, bukan hanya senja saja yang punya warna berbeda dengan Bumi.

Jika manusia berada di Mars dan melihat panorama siang, warna yang mendominasi juga bukan kuning seperti di Bumi.

Partikel debu Mars membuat siang hari lebih menyerupai warna benda yang berkarat.

Wahana antariksa Curiosity adalah wahana NASA yang bertugas menyelidiki lingkungan Mars dan jejak adanya air dan kehidupan di planet itu.

Mendarat di Planet Merah pada Agustus 2012, Curiosity telah membuat penemuan berharga, seperti batu-batu, yang membuktikan bahwa air pernah mendominasi Mars serta keberadaan molekul organik pendukung kehidupan.

*kutipan dari kompas dan tribunenews